Home
You Are Here: Home » Peluang » Hashim S. Djojohadikusumo : Karena saya tetap cinta bangsa ini

Hashim S. Djojohadikusumo : Karena saya tetap cinta bangsa ini

Hashim S. Djojohadikusumo : Karena saya tetap cinta bangsa ini

Dalam trah keluarganya, Hashim S. Djojohadikusumo tidak hanya mewarisi kepiawaian ayah dan kakeknya dalam berbisnis, tetapi juga semangatnya pada Indonesia.

 

Ayahnya adalah begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo yang juga arsitektur ekonomi Orde Baru, sedangkan kakeknya R.M. Margono Djojohadikusumo adalah pendiri Bank BNI 1946 dan mantan ketua DPAS 1945.

 

Hashim, yang mengenal ekonomi kerakyatan sejak kecil, justru banyak melakoni pendidikan formal di luar negeri. Dia baru pulang ke Indonesia saat sang ayah tak lagi menjadi menteri.

 

Dimulai dari menjadi direktur Indo Consult, Hashim merambah bisnis perdagangan, perkebunan, manufaktur, dan perbankan. Namun, krisis moneter 1997 merontokkan bisnisnya hingga berurusan dengan  BPPN.

 

Setelah itu, Hashim bangkit lagi dengan Nations Energy yang mengendalikan bisnis di Inggris, Kanada, Kazahktan, hingga Yordania. Pada 2006, dia kembali ke Indonesia sekaligus menyelamatkan perusahaan milik Prabowo, Kiani Kertas, yang terlilit utang Rp1,9 triliun. Usahanya pun menggurita di perkebunan, konsesi hutan, pertambangan batu bara, migas, hingga bisnis berbasis aren. Dengan aset lebih dari US$790 juta, Hashim menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.

 

Dalam wawancara dengan Bisnis Indonesia, Hashim mengaku bangga menjadi kapitalis, dia juga bercerita tentang bisnisnya, lilitan utang, penjara Salemba, IMF, hingga pohon aren. Berikut petikannya:

 

Ketika Anda memulai bisnis, apakah link dari Pak Sumitro menjadi bagian?

 

Justru karena ayah saya pejabat waktu itu, saya tunda pulang untuk bisnis. Ayah saya masih menteri waktu itu. Saya mulai bisnis pada 1976, waktu itu saya lulus dapat gelar S1. Saya putuskan tidak jadi pulang dan lebih banyak belajar di luar negeri, dan magang di Lazard [Lazard Freres Et Cie, bank swasta investasi di Prancis].

 

Kapan jadi pulang ke Indonesia?

 

Ayah saya berhenti di pemerintahan pada 1978. Saya pulang pertengahan 1978, memulai bisnis. Dan link dengan ayah saya tidak ada langsung.

 

Karena ayah, saya menjadi pengusaha pertama dari keluarga Djojohadikusumo, sebelumnya tidak ada. Di keluarga saya, hampir semua pegawai negeri, tentara, guru, atau profesor.
Priyayi ya, keluarga kami kan priyayi.

 

Dulu yang prestisius pegawai negeri. Tetapi karena saya dididik di luar negeri, tidak ada [masalah budaya]. Di Amerika, menjadi pengusaha itu mulia. Banyak orang yang the best and brightest masuk bisnis.

 

Saat 1978 itu awal industrialisasi. Repelita I, dan II, kan lebih banyak untuk pertanian.

 

Bagaimana memulai bisnis?

 

Saya mempunyai bisnis trading domestik, lalu masuk perdagangan internasional. Terus berkembang untuk imbal beli pada 1980-an, dan masuk perkebunan sawit. Waktu itu saya berbisnis dengan kelompok dari Malaysia yang mempunyai Shangrila Hotel, Robert Kuok. Nah pada 1988 saya masuk industri, Semen Cibinong.

 

Itu seiring dengan Pakto 1988?

 

Kebijakan lain. Pakto 88 tidak ada hubungannya dengan industri. Waktu itu ada hubungan dengan Indonesianisasi. Saat itu Sement Cibinong dimiliki kelompok bisnis AS, Kaiser Cement, yang diakuisisi pada 1987 oleh kelompok bisnis dari Inggris, Hansot Trust. Tapi konglomerat Inggris ini tak berminat lagi di Asia.

 

Waktu itu ditawarkan kepada saya. Mitsubishi Mining mau beli juga. Saya bersaing dengan multinasional dari Jepang. Waktu itu ada ketentuan BKPM, kalau investor asing, setelah 15 tahun harus dijual kepada pihak Indonesia. Itu tahun 1988.

 

Maka pada 1988, saya sudah di industri manufaktur, pertanian, perkebunan, dan perdagangan.

 

Setelah itu, ke mana lagi?

 

Industri petrokimia. Saya memiliki pabrik propilena dengan beberapa partner dan kami berkembang. Waktu krisis moneter 1997, saya sedang membangun pabrik petrokimia di Tuban. Sekarang sudah jadi. Sayangnya, saya harus lepas partisipasi di situ.

 

Selain itu, saya masuk perbankan. Bank Pelita, Bank Industri, Bank Papan Sejahtera, dan Bank Niaga. Bank Niaga sekarang milik Malaysia, CIMB.

 

Di Bank Niaga, sialnya, saya deal dengan keluarga Tahija 2 minggu sebelum krisis moneter. Ya, yang untung keluarga Tahija. Okelah saya senang juga. Itu bukan salah mereka, tetapi karena krisis moneter.

 

Nah, waktu membeli Bank Niaga saya umumkan rencana merger di antara bank di grup, kecuali Bank Industri karena mayoritas dimiliki BRI. Kami umumkan pada 29 Juli 1997. Itu rencana pertama merger, tanpa dipaksa oleh BI lho. Kemudian bank lain kan merger karena dipaksa, Bank Permata, Bank Mandiri, Bank Danamon. Kami sukarela untuk merger. Anyway, itu kan masa lalu ya.

 

Saat dipanggil Bank Indonesia (BI), Anda hadapi langsung?

 

Ya. saya hadapi langsung. Oktober, November 2007. Kepala pertama BPPN itu Pak Iwan Prawiranata, beliau Direktur BI. Waktu itu, Mas Drajat [Sudrajat Djiwandono] kan Gubernur BI.
Bank Industri ditutup wakyu beliau Gubernur BI. Ada 16 bank ditutup.

 

Panik?

 

Panik. Waktu itu ada isu bank pemerintah mau ditutup, deposan melarikan uangnya ke Singapura dan Hong Kong. Bank-bank di sini jadi kosong uangnya. Panik, akibat itu. Dan saya dengar karena dipaksa oleh IMF (International Monetary Fund).

 

Kalau ada kontrol devisa orang tidak bisa melarikan uangnya keluar negeri. IMF melarang kontrol devisa. Maka kenapa Mahathir, PM Malaysia, ribut dengan IMF. Dia berlakukan kontrol devisa, IMF tidak setuju. Mahathir yang benar. Dan, IMF secara terbuka mengatakan Mahathir yang benar. Tapi sudah rusak ekonomi kita.

 

Itu kan masa-masa sulit Anda?

 

Sangat sulit, apalagi dikaitkan politik. Soeharto lengser, Prabowo dipecat. Waduh, susah sekali waktu itu.

 

Keluarga bagaimana?

 

Saling mendukung. Kita kompak. Tetapi susah, ayah saya, ibu saya. Bukan masalah ekonomi,  tetapi waktu itu masalah politik. Pergantian Presiden, Prabowo [Subijanto] kakak saya dipecat, saya diangkat sebagai duta besar. Tetapi ada yang bilang itu permen, supaya keluarga Sumitro tidak marah. Life is up and down, kan?

 

Banyak yang bergantung pada Anda. Anda turun langsung ke anak buah, dan mengatakan semua berjalan tak seburuk yang dikira?

 

Oh, saya harus PHK berapa orang tuh. Berat, karena saya tidak suka mem-PHK orang. Saya punya anak perusahaan pembuat beton PT Trumiks Beton. Cukup besar, kita juga punya armada truk, sopir, dan kenek.

 

Juli 1997, kami masih jual 140.000 m3 beton tiap bulan. Desember 1997 hanya jual 5.000 m3. Dalam 5 bulan bisnis anjlok. Kita tunda PHK, mudah-mudahan situasi membaik.

 

Situasi tak membaik, 2 tahun kemudian saya terpaksa mem-PHK. Dari punya karyawan 140.000 orang menjadi 5.000 orang. Pada 2001, terpaksa Semen Cibinong kita jual. Berat. Komeksindo ratusan [orang terkena PHK], Trumiks 1.200 orang. Wahana Tanstama tidak ada PHK, karena tetap angkut semen.

 

Itu akibat IMF paksa pemerintah kita menaikkan suku bunga. Can you imagine? Perhatikan, di Indonesia krisis 1997, dan AS krisis pada 2008. Mungkin 100 kali, 1.000 kali lebih besar dari kita. Apa yang terjadi di AS? Suku bunga diturunkan. Kita dipaksa naik sampai 70% per tahun. 1997, 1998. Masak [di sini] dicekekin, orang sudah mau mati. Orang sudah mau mati.

 

Urusan dengan BPPN?

 

Ini karena krisis moneter, dan bukan hanya saya di IBRA (Badan Penyehatan Perbankan Nasional).
Ada 1.700 pengusaha yang bermasalah. Saya nomor 7.

 

Saya sebetulnya tidak merasa [gagal], ini konsekuensi. Wirausaha adalah orang yang ambil risiko. Kalau untung kita dapat uang besar. Saya kapitalis. Seorang kapitalis take risk bisnis, risiko apa? Bisa pailit, saat krisis moneter itu karena ekonomi dan politik.

 

Saya kira semata-mata bisnis saya harus lunasi [kewajiban]. Waktu itu saya berurusan dengan tujuh kepala BPPN. Saya ingat, Pak Iwan Wiranata sampai Sjarifudin Tumenggung. Luar biasa, ada kepala BPPN dilantik tiap 6 bulan. Setiap ganti [kepala] perjanjian berubah semua, frustasi kita. Kita mau niat baik, tetapi frustrasi. Sikap beberapa pejabat BBPN tak kooperatif. Ada yang sombong.

 

Pada 2002 saya pulang. Saya dipanggil karena kasus kecil, dianggap melanggar BMPK [batas maksimum pemberian kredit]. Saya selalu datang dan penuhi panggilan dari Jenewa. Ada kasus orang lain, Kredit Asia Finance Ltd [milik] Agus Anwar. Saya datang dan langsung ditahan, masuk [penjara] Salemba, lagi. Biasanya kan masuk tahanan kota atau apa.

 

Sempat 2 minggu dipenjara. Saya jadi korban mafia peradilan. Ini masalah lama. Pengusaha menjadi sasaran pemeresan. Kenapa? Kalau berbulan-bulan dalam sel, kan tak bisa bisnis. Saat itu saya dalam perundingan masalah ini kan? Saya bisa selesaikan semua kewajiban kepada negara pada 2004. Waduh, saya kesal sekali dan sakit hati. Kita mau berbuat baik kok dipersulit, diperas.

 

Masalah arca, kita mau buat baik kok diperas. Saya dianggap penadah. Saya beli dari orang Belanda yang beli dari Solo, masak saya yang jadi target. Orang Belanda tak disentuh loh.

 

Anda kecewa dengan kondisi yang tak mendukung pengusaha, kenapa tetap ke Indonesia?

 

Karena saya tetap cinta bangsa saya. Saya cinta rakyat saya, bangsa saya. Yang saya cinta adalah negara saya.

 

Itu yang diajarkan seorang Sumitro?

 

Sebelumnya ada Mas Margono [Djojohadikusumo]. Itu kakek saya. Dari kecil, saya mengikuti bapak ke mana-mana. Bukan hanya sejarah, melainkan juga ekonomi kerakyatan. Saya sudah kenal ekonomi kerakyatan sejak kecil.

 

Ayah saya kolektor buku, dan naskah kuno. Dia perlihatkan buku yang ditulis kakek pada 1940 dan dicetak pada 1941. Judulnya,10 Tahun Koperasi Indonesia 1930-1940.

 

Jauh sebelum M. Hatta ya?

 

Itu bareng dengan Bung Hatta. Bung Hatta itu sahabat, bolo. Waktu itu sudah ada ekonomi kerakyatan. Sekarang orang bilang ini idenya Prabowo. Bukan, bukan ide dia. Ide pendahulu kita.
Prabowo, saya, dan kawan-kawan, ingin menerapkan ide-ide itu. Kenapa saya kembali 2002, 2006, masuk Kertas Nusantara, karena kita merasa terpanggil.

 

Saya kapitalis, suka uang, kenapa membantah. Saya menjadi pengusaha untuk menjadi kaya kok. Itu mulia. Kita harus bangga juga.

 

Kalau bisnis minyak gimana?

 

Oh, kalau upstream sejak 1997. Di Asia Tengah, Kazakhstan. Awal 2003 masuk Azerbaijan. Sudah dijual 2006. Kita punya di Brunei, Papua, Madura. Tapi itu semua ekspor asing.

 

Kenapa dilepas?

 

Harga bagus.

 

Kapitalis sekali jawabannya?

 

Kita perlu banyak kapitalis di Indonesia, tetapi kapitalis yang baik. Jangan pembalak liar. Kita butuh kapitalis yang bertanggung jawab.

 

Bisnis ekologi bagaimana?

 

Itu bukan bisnis, bukan tujuan utama. Sudah berapa tahun saya pelajari aren. Ternyata banyak potensi besar. Bisa menghasilkan bahan bakar nabati, bioetanol. Juga gula yang bagus untuk diabetes, itu yang bisnisnya.

 

Ada dampak positif untuk lingkungan hidup. Pohon aren kita tanam dengan tumpang sari. Kita ajukan ke Kaltim. Pak Awang [Faroek Ishak, Gubernur Kaltim] tahu tentang aren. Puluhan hektare yang rusak kita reboisasi dengan pohon aren dan 150 jenis lain.

 

Pada 2004 itu lahan gundul hanya ada alang-alang, jarang hujan. Setelah 4-5 tahun pohon tinggi, mulai banyak hujan. Dengan pohon, ada lembap. Semakin banyak reboisasi, banyak hujan, banyak air untuk minum. Satwa liar juga kembali. Jadi mengatasi masalah lingkungan hidup. Ada lahan konservasi harimau. Reboisasi memberi habitat untuk satwa liar. Misalnya orang utan, mereka bisa punya tempat.

 

Semakin banyak sawit atau karet, semakin terpinggir. Mereka tidak bisa makan buah sawit. Sayangnya pejabat banyak tidak peduli.

About The Author

Number of Entries : 599

Comments (1)

Leave a Comment

Anti-Spam Quiz:

Scroll to top